Program Pengembangan Fasilitator Komunitas (CFDP) 2007-2008

    No Where   |        30 January 2019

Pentingnya pembangunan berbasis sosial membutuhkan aktor pendukung yang mampu mempercepat perubahan sosial. Berbagai program pengembangan masyarakat yang diusulkan oleh lembaga pemerintah dan non-pemerintah, berimplikasi pada pertumbuhan kebutuhan fasilitator pembangunan masyarakat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Oleh karena itu, Sejak 2006, 4 yayasan; Fasilitas Pendukung Desentralisasi (DSF), IGGRD, dengan British Council, Universitas Kristen Satya Wacana, dan Pusat Studi Indonesia Timur (PSKTI-UKSW), mempertimbangkan pentingnya program pengembangan Fasilitator Masyarakat (CFDP) ini, yang memiliki visi untuk mengatasi kemiskinan masalah di Indonesia.

Kami telah melakukan beberapa kegiatan seperti: Konsultasi Publik di 9 lokasi, Jakarta, Salatiga, Medan, Pekanbaru, Balikpapan, Makasar, Lombok, Palembang, dan Sorong. Pentingnya kegiatan Konsultasi Publik ini, untuk mendapatkan informasi dan masukan dari para pemangku kepentingan di 9 lokasi tersebut tentang konsep pengembangan masyarakat, kurikulum, dan materi pengembangan masyarakat, dan untuk mendapatkan masukan tentang model pengembangan fasilitator pembangunan masyarakat yang paling efektif. jaringan. 

Selain itu, kontribusi umum dari kegiatan Konsultasi Publik ini adalah:

  1. Kerja tim dapat menemukan kekuatan, kelemahan atau penghalang dari sistem pengembangan kapasitas yang sedang dirumuskan. Jadi, diharapkan bahwa desain yang dikembangkan mampu merespon kehadiran perbedaan distrik, sosial, politik dan ekonomi.
  2. Berbagai masukan dari banyak pemangku kepentingan yang terlibat sebagai peserta di lokasi konsultasi publik dapat memperkaya desain sub sistem pelatihan, perluasan jaringan, sertifikasi dan registrasi. Pemikiran kritis yang diucapkan dalam Konsultasi Publik adalah suatu proses yang dapat menjadi anti-tesis terhadap tesis yang disampaikan oleh kerja tim untuk diuraikan kembali menjadi sintesis yang lebih bermakna dalam menanggapi banyak penolakan terhadap program ini.
  3. Pelaksanaan konsultasi publik menjadi ruang diseminasi untuk keberadaan program ini dan memperluas proses jaringan fasilitator masyarakat dari 4 proyek percontohan yang telah ditetapkan, 9 lokasi pelaksanaan konsultasi publik. Mereka yang diharapkan lebih lanjut dapat menjadi simpul jaringan fasilitator masyarakat.

Secara umum, pelaksanaan konsultasi publik di 9 lokasi meliputi 25 provinsi yang diikuti oleh 248 peserta dari berbagai elemen masyarakat dilakukan dengan baik dan sesuai rencana.

Konsultasi ini bertujuan untuk:

  1. Dapatkan informasi dan masukan dari pemangku kepentingan di 9 lokasi tentang konsep pengembangan komunitas, kurikulum dan materi pengembangan masyarakat.
  2. Cari masukan tentang model pengembangan jaringan fasilitator pengembangan masyarakat yang paling efektif.

Output dari kegiatan ini:

  1. Ketersediaan masukan dari pemangku kepentingan terhadap konsep pengembangan masyarakat, kurikulum, bahan dan model sertifikasi untuk fasilitator CD.
  2. Identifikasi model yang paling efektif untuk jaringan fasilitator pengembangan masyarakat.   Untuk membuat beberapa implementasi program ini, kami telah melakukan test bed, pra TOT, dan TOT (Training of Trainers), yang melatih semua fasilitator untuk menjadi pelatih yang baik di daerah mereka. Nilai Proyek: Euro 785.850 (Tujuh ratus delapan puluh lima ribu delapan ratus lima puluh euro) Didanai oleh Bank Dunia